Logo SantriDigital

Hubungan antara generasi muda dan yg lebih tua

Khutbah Jumat
M
Muhammad fathul mubarok
30 April 2026 5 menit baca 1 views

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah, nahmaduhu wa nasta'inuhu wa nastaghfiruh, wa na'udzubillahi min syururi anfusina wa min s...

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah, nahmaduhu wa nasta'inuhu wa nastaghfiruh, wa na'udzubillahi min syururi anfusina wa min sayyi'ati a'malina. Man yahdihillahu fala mudzilla lah, wa man yudlil fala hadiya lah. Wa asyhadu anla ilaha illallah wahdahu la syarikalah, wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rasuluh. أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. Sidang Jumat yang Budiman, Di tengah gemuruh kehidupan yang terus berputar, seringkali kita terhanyut dalam arus perputaran zaman yang begitu cepat. Terlebih bagi generasi muda kita, yang energinya meluap, pikirannya dinamis, dan pandangannya tertuju pada masa depan. Namun, marilah sejenak kita jeda, kita renungkan sebuah simpul kehidupan yang tak boleh terputus, sebuah jalinan kasih yang mengikat keberlangsungan peradaban Islam: hubungan antara generasi muda dan generasi yang lebih tua. Sesungguhnya, tidak ada satu pun umat di dunia ini yang bisa berdiri tegak tanpa fondasi kokoh warisan para pendahulunya. Kaum muda adalah harapan, mercusuar di ufuk masa depan. Namun, tanpa bimbingan para tetua, tanpa cahaya hikmah dari generasi yang telah matang pengalamannya, harapan itu bisa redup, tertelan kegelapan kebingungan. Allah SWT berfirman: "وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ." *(“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah.” Dan siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”)* (QS. Luqman: 12) Ayat ini mengingatkan kita tentang pentingnya hikmah, sebuah kebijaksanaan yang seringkali terasah melalui rentang usia dan pengalaman. Generasi tua memegang kunci hikmah. Mereka telah melalui badai kehidupan, merasakan manis getirnya perjuangan, dan mengerti nuansa yang tak terjangkau oleh mata muda yang masih polos. Melalui kearifan mereka terpancar petunjuk Illahi, melalui nasehat mereka terselip mutiara ilmu. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Betapa meruginya generasi muda yang merasa cukup dengan usianya yang masih muda, yang merasa mampu melampaui segala nasihat orang tua, kakek nenek, atau para ulama yang uban putihnya adalah bukti kedalamannya. Seolah-olah mereka berkata, "Kami lebih tahu, kami lebih mampu." Sikap sombong inilah yang membuka pintu kehinaan. Padahal, Allah SWT mengingatkan dalam firman-Nya: "إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ." *(“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah orang-orang yang berilmu.”)* (QS. Fathir: 28) Dan ilmu yang hakiki tidak hanya didapat dari buku, namun juga dari sanad para pendahulu yang terpercaya, dari guru-guru beriman yang telah mengabdikan hidupnya untuk Allah. Ketaatan meneladani mereka, membuka pintu-pintu kebaikan yang tersembunyi. Dengarkanlah kisah Luqman Al-Hakim kepada putranya, sebuah dialog yang penuh dengan nasihat emas, sebuah gambaran sempurna bagaimana seorang tua membimbing muda: "وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ." *(“Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, sedang ia memberi pelajaran kepadanya: ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.’“)* (QS. Luqman: 13) Tegurlah kemungkaran dengan lembut, hiburlah hati yang lara dengan penuh kasih. Tunjukkan kepada mereka bahwa dunia ini hanyalah sementara, bahwa kebahagiaan hakiki adalah bersama ridha Allah. Bagaimana kita bisa bangga jika generasi muda kita terbuai oleh gemerlap duniawi, lupa akan panggilan Tuhan, atau bahkan mengejek para kekasih-Nya yang telah uzur? Ingatlah sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا." *(“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang lebih muda dan tidak menghormati yang lebih tua.”)* (HR. Tirmidzi) Hadits ini begitu syahdu, begitu meresap. Ia adalah tamparan lembut bagi kita yang mungkin lalai. Usia tua bukan berarti akhir dari produktivitas, melainkan puncak dari matangnya pengabdian. Sebaliknya, usia muda bukan berarti kebebasan tanpa batas, melainkan masa untuk belajar, berkarya, dan berbakti dengan semangat yang membara. Generasi tua harus siap membuka diri, mendengarkan aspirasi muda, bukan dengan ego apalagi arogansi. Sedangkan generasi muda, berikanlah rasa hormat, dengarkan dengan penuh perhatian, carilah mutiara hikmah di balik setiap kata mereka. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Mari kita tatap wajah ayah dan ibu kita, kakek dan nenek kita. Adakah di antara kita yang pernah mengabaikan mereka di usia senja? Adakah yang pernah membentak tatkala mereka memohon bantuan? Ingatlah, tatkala kita kecil, tangan mereka yang lemah menuntun langkah kita, suara mereka yang lembut mengantar tidur kita. Kini, saat tangan mereka mulai gemetar dan suara mereka melemah, justru kitalah yang harus menjadi sandaran, pelita penerang jalan mereka. Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman: "وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا." *(“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia; dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau keduanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”)* (QS. Al-Isra’: 23) Ini adalah perintah yang sangat tegas. Betapa seringnya kita melupakan perintah ini di tengah kesibukan dunia yang fana. Betapa seringnya kita hanya memberikan waktu sekejap, memberikan bantuan seperlunya, tanpa menyadari bahwa keridhaan Allah seringkali bersumber dari keridhaan orang tua. Mari kita renungkan, wahai para anak muda. Perhatikanlah para kyai kita, para guru kita, para tetua di lingkungan kita. Merekalah pelita yang menerangi jalan peradaban ini. Tanpa mereka, kita seperti kapal yang terombang-ambing di lautan tanpa nahkoda. Dengarkanlah nasihat mereka, peluklah tubuh renta mereka, dan jadikanlah keberkahan hidupmu di dunia ini bersumber dari limpahan doa mereka. Dan wahai para generasi tua, janganlah menutup diri. Ulurkanlah tangan kasihmu kepada generasi muda. Bimbinglah mereka dengan sabar, ajari mereka bukan hanya ilmu dunia, tapi juga ilmu akhirat yang jauh lebih bernilai. Tunjukkanlah kepada mereka suri tauladan yang baik, karena perkataan tanpa perbuatan hanyalah angin lalu. Marilah kita bangun sebuah jembatan kokoh antara dua generasi ini, jembatan yang dilandasi cinta, rasa hormat, dan kerinduan akan ridha Allah. Kita adalah satu tubuh, satu umat, di bawah panji Islam yang mulia. Jangan biarkan pikun dan kealayon memisahkan kita. Tetesan air mata penyesalan ini, memohon ampunan kepada Allah yang Maha Pengasih, agar Dia mengokohkan cinta di hati kita, menyatukan langkah kita menuju surga-Nya. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →